Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita akronimkan dengan NKRI yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Talaut ke Pulau Rote, Begitu luas, mengandung kekayaan alam yang berlimpah, keanekaragaman budaya yang kaya dan dhuni oleh manusia yang hampir mencapai 250 Juta jiwa. Kekayaan dan keanekaragaman unik ini dipersatukan oleh janji Bhineka Tunggal Ika, dituangkan dalam nilai-nilai dasar yaitu Pancasila dan di simbolkan dengan lambang negara Burung Garuda serta dalam naungan satu bendera Sangsaka Merah Putih.
Ketangguhan lain dari NKRI bisa kita lihat, fakta sejarah telah membuktikan. Beberapa negara yang telah mencengramkan kukunya di bumi Nusantara ini melalui kolonialisme dan Imprealisme bisa dicabut oleh kekuatan rakyat. Percobaan pemaksaan nilai kebangsaan oleh beberapa kelompok aliran, sebut saja ; komunisme, aliran agama tertentu, suku dan bermacam ideologi lainnya. Pemaksaan nilai dan sistem kenegaraan ini ada berbentuk kudeta bahkan separatisme. Toh, semuanya gagal oleh kekuatan komponen bangsa yang mencintai negerinya. Beberapa tragedi peralihan kekuasaan, Kolonialisme ke orde lama, dari orde lama ke orde baru, dari orde baru ke orde reformasi, dari orde reformasi ke orde euforia dan pencitraan. Semua transisi itu dilalui dengan selamat oleh bangsa Indonesia meski dengan berbagai krisis dan penderitaan rakyat.
Untuk melalui berbagai tantangan dan keluar dengan selamat dari situasi yang sangat pelik serta kritis ini bukan lah persoalan mudah dan ringan. Butuh semangat rakyat yang tinggi, butuh kecerdasan dan ketangguhan sebagai bangsa. Bahkan tidak semua bangsa di dunia yang bisa melalui situasi kritis seperti yang mampu di hadapi oleh bangsa Indonesia.
Kita memang belum sedominan Amerika, Inggris, Australia, Jepang dan China. Tapi apabila kita berbenah bisa “Jauh Lebih Hebat” dari mereka.
Pertanyaan kita sekarang, jadi siapa yang kecil, lemah dan bodoh sebenarnya ?
Kenapa pertanyaan ini muncul ?
Pertanyaan ini muncul dan penulis bertanya karena situasi belakangan ini yang semakin membuat kita sebagai bangsa yang besar dan berdaulat terlihat kecil dan bodoh oleh tingkah laku segelintir orang yang konyol.
Kita bisa lihat, betapa konyolnya kita sebagai bangsa, seorang penggemblang pajak bisa meraup uang pembangunan ke kantong pribadinya,bisa mempermainkan proses hukum, bisa melancong kemana dia mau pergi, bahkan meminta jabatan staf ahli istitusi penegak hukum di Negara kita yang besar ini.
Apa kata duniaaaa.......?
Bukan mengurangi hak azasi seseorang, kalau tersangka ya proses sebagai tersangka. Apapun ocehannya silahkan proses hukum harus tetap pada koridornya. Untuk penegakan hukum, terutama pembersihan perompak-perompak pajak tak perlu harus dengan tersangka “Gayus” jadi staf ahli institusi penegak hukum. Kalaulah harus Gayus yang terdepan dan lebih berperan apakah Institusi KPK, Kejaksaan, Kepolisian dan Lembaga Peradilan atau bahkan Lembaga Kepresidenan sudah tidak berdaya membangun menara keadilan dan supremasi hukum tanpa campur tangan Gayus.
Suatu yang aneh dan konyol lagi, dia mengaku penggemblang pajak kelas teri dan masih ada yang big fish atau paus. Kelas terinya segede’ itu (ratusan milyar rupiah), kira-kira sebesar apa pausnya ?
Kalau Gayus udah ngaku teri kenapa masih omong besar mau nangkap big Fish atau Paus. Apa ada seekor teri yang mampu menangkap Paus? Untuk kehormatan martabat bangsa, dan menunjukkan kekuatan supremasi hukum kita, lebih baik cari bukti dengan elegan bahkan paksa semua yang tahu untuk memberi bukti pemberantasan mafia pajak ini.
Kebodohan dan kekonyolan lain yang terbaru diperlihatkan akhir-akhir ini, adanya suara dari gedung parlemen kita (DPR RI). Dimana ada yang bilang kalau pemberantasan korupsi dan mafia pajak ini dari akar-akarnya akan menimbulkan instabilitas politik di negeri ini. Betapa naif nya pernyataan ini.
Apakah negara kita rapuh dan selemah itu?
Apakah kita harus kalah sama mafia dan siasat busuknya?
ANDA KELIRU BUNG....! anda harus sadar NKRI bukan kecil, lemah dan bodoh.....!!!
anda ingat lagi fakta sejarah bangsa kita,,,, renungi kembali secermatnya.
Indonesia bukan saja di Jakarta
Manusia Indonesia yang cerdas dan jujur bukan saja ada di Senayan dan Istana
Mungkin anda merasa tidak mampu dan kehilangan akal untuk berbuat yang terbaik dan mengatasi masalahnya, bukan berarti semua manusia Indonesia tidak mampu berbuat yang lebih baik.
Batusangkar, 11 Januari 2011
Apriyeldi. BSM