Senin, 28 Februari 2011

PEMERIKSAAN DAN PENGKAJIAN PERNAFASAN PASIEN

Teknik Pengkajian Pernafasan :
1. Perhatikan naik turunnya dada. Pastikan Pasien sedang Istirahat dan tidak
menyadari sedang dikaji pernafasannya.
2. Hitung frekuensi pernafasan selama 1 menit penuh
3. Perhatikan Irama dan ciri pernafasan
4. Catat frekuensi, kedalaman, irama, dan karakteristik pernafasan

Frekuensi Pernafasan Normal :
Dewasa : 14 - 20 kali / menit
Pediatrik :
Prematur : 40 - 90 / menit
Neonatus : 30 - 80 / menit
1 Tahun : 20 - 40 / menit
2 Tahun : 20 - 30 / menit
3 Tahun : 20 - 30 / menit
5 Tahun : 20 - 25 / menit
10Tahun : 17 - 22 / menit
15Tahun : 15 - 20 / menit

Istilah / Kata dalam Pengkajian Pernafasan :

FREKUENSI :
Eupnea : tenang, berirama, dan bebas
Takipnea : cepat dan dangkal
Bradipnea : sangat lambat
Apnea : Berhenti

VOLUME :
Hiperventilasi : Panjang dan dalam
Hipoventilasi : Dangkal
Hiperpnea : Dalam dan Cepat
Hiperpnea volunter : Dipaksakan

IRAMA :
Biot : apnea dan hiperpnea silih berganti
Cheyne Stokes : sangat dalam sampai sangat dangkal diselingi apnea
Cogwheel : terputus-putus
Kussmaul : dalam dan terengah-engah
Periodik : Irama tidak teratur

KARAKTERISTIK :
Abdominal : perut bergerak, dada tidak banyak bergerak
Diafragmatik : sama dg abdominal
Dispnea : dipaksakan atau sulit
Labored : Dispnea atau sulit (Pasien tampak berjuang utk bernafas)
Rileks : Normal
Sonor : suara keras, bernada rendah
Stertorus : suara mendesah atau bunyi gelembung
Stridulus (stridor) : suara bernada tinggi saat inspirasi.

(Sumber : Holloway, Brenda Walters "Rujukan Cepat Keperawatan Klinis" Jakarta,EGC,2003)

Selasa, 11 Januari 2011

ANDA HARUS SADAR.......!!! NKRI BUKAN KECIL, LEMAH DAN BODOH

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita akronimkan dengan NKRI yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Talaut ke Pulau Rote, Begitu luas, mengandung kekayaan alam yang berlimpah, keanekaragaman budaya yang kaya dan dhuni oleh manusia yang hampir mencapai 250 Juta jiwa. Kekayaan dan keanekaragaman unik ini dipersatukan oleh janji Bhineka Tunggal Ika, dituangkan dalam nilai-nilai dasar yaitu Pancasila dan di simbolkan dengan lambang negara Burung Garuda serta dalam naungan satu bendera Sangsaka Merah Putih.

Ketangguhan lain dari NKRI bisa kita lihat, fakta sejarah telah membuktikan. Beberapa negara yang telah mencengramkan kukunya di bumi Nusantara ini melalui kolonialisme dan Imprealisme bisa dicabut oleh kekuatan rakyat. Percobaan pemaksaan nilai kebangsaan oleh beberapa kelompok aliran, sebut saja ; komunisme, aliran agama tertentu, suku dan bermacam ideologi lainnya. Pemaksaan nilai dan sistem kenegaraan ini ada berbentuk kudeta bahkan separatisme. Toh, semuanya gagal oleh kekuatan komponen bangsa yang mencintai negerinya. Beberapa tragedi peralihan kekuasaan, Kolonialisme ke orde lama, dari orde lama ke orde baru, dari orde baru ke orde reformasi, dari orde reformasi ke orde euforia dan pencitraan. Semua transisi itu dilalui dengan selamat oleh bangsa Indonesia meski dengan berbagai krisis dan penderitaan rakyat.

Untuk melalui berbagai tantangan dan keluar dengan selamat dari situasi yang sangat pelik serta kritis ini bukan lah persoalan mudah dan ringan. Butuh semangat rakyat yang tinggi, butuh kecerdasan dan ketangguhan sebagai bangsa. Bahkan tidak semua bangsa di dunia yang bisa melalui situasi kritis seperti yang mampu di hadapi oleh bangsa Indonesia.

Kita memang belum sedominan Amerika, Inggris, Australia, Jepang dan China. Tapi apabila kita berbenah bisa “Jauh Lebih Hebat” dari mereka.

Pertanyaan kita sekarang, jadi siapa yang kecil, lemah dan bodoh sebenarnya ?
Kenapa pertanyaan ini muncul ?

Pertanyaan ini muncul dan penulis bertanya karena situasi belakangan ini yang semakin membuat kita sebagai bangsa yang besar dan berdaulat terlihat kecil dan bodoh oleh tingkah laku segelintir orang yang konyol.

Kita bisa lihat, betapa konyolnya kita sebagai bangsa, seorang penggemblang pajak bisa meraup uang pembangunan ke kantong pribadinya,bisa mempermainkan proses hukum, bisa melancong kemana dia mau pergi, bahkan meminta jabatan staf ahli istitusi penegak hukum di Negara kita yang besar ini.
Apa kata duniaaaa.......?

Bukan mengurangi hak azasi seseorang, kalau tersangka ya proses sebagai tersangka. Apapun ocehannya silahkan proses hukum harus tetap pada koridornya. Untuk penegakan hukum, terutama pembersihan perompak-perompak pajak tak perlu harus dengan tersangka “Gayus” jadi staf ahli institusi penegak hukum. Kalaulah harus Gayus yang terdepan dan lebih berperan apakah Institusi KPK, Kejaksaan, Kepolisian dan Lembaga Peradilan atau bahkan Lembaga Kepresidenan sudah tidak berdaya membangun menara keadilan dan supremasi hukum tanpa campur tangan Gayus.

Suatu yang aneh dan konyol lagi, dia mengaku penggemblang pajak kelas teri dan masih ada yang big fish atau paus. Kelas terinya segede’ itu (ratusan milyar rupiah), kira-kira sebesar apa pausnya ?

Kalau Gayus udah ngaku teri kenapa masih omong besar mau nangkap big Fish atau Paus. Apa ada seekor teri yang mampu menangkap Paus? Untuk kehormatan martabat bangsa, dan menunjukkan kekuatan supremasi hukum kita, lebih baik cari bukti dengan elegan bahkan paksa semua yang tahu untuk memberi bukti pemberantasan mafia pajak ini.

Kebodohan dan kekonyolan lain yang terbaru diperlihatkan akhir-akhir ini, adanya suara dari gedung parlemen kita (DPR RI). Dimana ada yang bilang kalau pemberantasan korupsi dan mafia pajak ini dari akar-akarnya akan menimbulkan instabilitas politik di negeri ini. Betapa naif nya pernyataan ini.

Apakah negara kita rapuh dan selemah itu?
Apakah kita harus kalah sama mafia dan siasat busuknya?

ANDA KELIRU BUNG....! anda harus sadar NKRI bukan kecil, lemah dan bodoh.....!!!
anda ingat lagi fakta sejarah bangsa kita,,,, renungi kembali secermatnya.
Indonesia bukan saja di Jakarta
Manusia Indonesia yang cerdas dan jujur bukan saja ada di Senayan dan Istana

Mungkin anda merasa tidak mampu dan kehilangan akal untuk berbuat yang terbaik dan mengatasi masalahnya, bukan berarti semua manusia Indonesia tidak mampu berbuat yang lebih baik.

Batusangkar, 11 Januari 2011
Apriyeldi. BSM

Senin, 27 Desember 2010

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Selama ini mungkin sebagian masyarakat beranggapan bahwa praktik keperawatan hanya dalam lingkungan klinik seperti rumah sakit, atau puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan yang berada dalam suatu gedung/kantor. Pada tatanan masyarakat atau komunitas masih ada lingkup praktik keperawatan yang sangat strategis dalam menentukan keberhasilan peningkatan derajat kesehatan. Dimana bentuk praktik keperawatan tersebut adalah praktik keperawatan keluarga.



Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan dengan sasaran keluarga. Asuhan ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

Perawat yang memberikan asuhan keperawatan keluarga mempunyai tanggungjawab dalam memberikan asuhan keperawatan, meningkatkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan diri sebagai profesi (meningkatkan keterampilan, intelektual, teknis dan interpersonal)

Tanggung jawab memberi asuhan keperawatan keluarga dengan menggunakan metodologi proses keperawatan meliputi :
  • membantu keluarga memperoleh kembali kesehatannya
  • membantu keluarga yang sehat untuk memelihara kesehatannya
  • membantu keluarga menerima kondisi anggota keluarga yang tidak dapat disembuhkan
  • membantu anggota keluarga yang menghadapi ajal untuk diperlakukan secara manusiawi sesuai martabatnya.


Secara umum tujuan asuhan keperawatan keluarga adalah untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya secara mandiri. Tujuan khususnya, dimana meningkatnya kemampuan keluarga dalam:
  1. mengenal masalah kesehatan keluarga
  2. memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan keluarga
  3. melakukan tindakan perawatan kesehatan yang tepat kepada anggota keluarga yang sakit, mempunyai gangguan fungsi tubuh, dan atau keluarga yang membutuhkan bantuan, sesuai dengan kemampuan keluarga.
  4. memelihara dan memodifikasi lingkungan keluarga (fisik, psikis, dan sosial) sehingga dapat meningkatkan kesehatan keluarga.
  5. memanfaatkan sumber daya yang ada dimasyarakat (misalnya, puskesmas, posyandu atau sarana kesehatan lainnya) untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan keluarga.
(oleh : Apriyeldi.BSM, dikutip dari berbagai sumber)

Kamis, 02 Desember 2010

Opini dari Ledakan Gunung Merapi dan RUU Keistimewaan DIY

PANASNYA AKTIVITAS VULKANIK DAN POLITIK
(Catatan dari Ledakan Gunung Merapi dan RUU Keistimewaan DIY)
oleh : APRIYELDI. BSM

Di akhir tahun 2010, meski langit Indonesia masih biru dan petani politik menjanjikan padi akan semakin menguning dimana-mana tapi masyarakat khususnya di Pulau Jawa diresahkan oleh aktivitas vulkanik gunung merapi.

Aktivitas vulkanik gunung Merapi masih tetap terpantau oleh BMKG sehingga masyarakat bisa lebih waspada untuk menyelamatkan jiwa.


Aktivitas vulkanik gunung Merapi telah berpuncak dengan letusan yang mengakibatkan gelombang pengungsian dan kematian hewan-hewan ternak serta memusnahkan pertanian warga Yogyakarta. Disaat ini pula sang bintang publik "Mbah Maridjan" pergi untuk selamanya meninggalkan tahta sebagai juru kunci Gunung Merapi.


Belum selesai mengatasi korban musibah Merapi, masih merahnya tanah pemakaman teman iklannya Juara Tinju Dunia dari Indonesia "Cris Jhon" keluar khabar bahwa gunung Bromo aktivitas vulkaniknya meningkat dan akan meletus pula. Semua orang sudah mulai siaga dan waspada menghadapi aktivitas Gunung Bromo.


Disaat penanggulangan Bencana Merapai dan tangis luka masyarakat Yogya, serta kekwatiran akan aktivitas vulkanik Gunung Bromo, malah diluar dugaan kita dan BMKG sekalipun ternyata ada aktivitas vulkanik yang lebih dasyat dari Istana yaitu aktivitas vulkanik politik. tanpa status awas, siaga dan waspada lebih duluan meletus dari Gunung Bromo yang lebih awal diperingatkan pada masyarakat.


Kedasyatan aktivitas vulkanik politik ini lebih dasyat dari Letusan Gunung Merapi di Yogya, buktinya; kalau Gunung Merapi Yogya abu panasnya tidak sampai menyesakkan nafas orang-orang yang ada di Jakarta. Tapi kalau ledakan vulkanik politik ini malahan sampai ke Yogyakarta. Buktinya di Yogya banyak masyarakat berteriak kecewa, kemaren berbondong mengungsi dan sekarang berbondong berdemonstrasi.


Semoga ledakan aktivitas vulkanik politik ini tidak sampai memendungkan langit Indonesia yang sedang cerah dengan warna biru.

(2 Desember 2010)

Selasa, 30 November 2010

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

PHBS di Rumah Tangga
adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu :
 1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
 2. Memberi ASI ekslusif
 3. Menimbang balita setiap bulan
 4. Menggunakan air bersih
 5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
 6. Menggunakan jamban sehat
 7. Memberantas jentik dd rumah sekali seminggu
 8. Makan buah dan sayur setiap hari
 9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
 10. Tidak merokok di dalam rumah 

PHBS di Institusi Kesehatan
adalah upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan.

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Institusi Kesehatan yaitu :
 1. Menggunakan air bersih
 2. Menggunakan Jamban
 3. Membuang sampah pada tempatnya
 4. Tidak merokok di institusi kesehatan
 5. Tidak meludah sembarangan
 6. Memberantas jentik nyamuk

PHBS di Tempat kerja
adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan Tempat Kerja Sehat.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :
 1. Tidak merokok di tempat kerja
 2. Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja
 3. Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik
 4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan   buang air kecil
 5. Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja
 6. Menggunakan air bersih
 7. Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar
 8. Membuang sampah pada tempatnya
 9. Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan

PHBS di Tempat - tempat Umum
adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat - tempat umum agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat - tempat Umum Sehat.
Tempat - tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta, atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana pariwisata, transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan olahraga, rekreasi dan sarana sosial lainnya.

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Tempat - Tempat Umum yaitu :
1. Menggunakan air bersih
2. Menggunakan jamban
3. Membuang sampah pada tempatnya
4. Tidak merokok di tempat umum
5. Tidak meludah sembarangan
6. Memberantas jentik nyamuk

PHBS di Sekolah
adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu :
 1. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun
 2. Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah
 3. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat
 4. Olahraga yang teratur dan terukur
 5. Memberantas jentik nyamuk
 6. Tidak merokok di sekolah
 7. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan
 8. Membuang sampah pada tempatnya

Sumber :  www.promosikesehatan.com